Yatim yang Yatim Piatu

Lawwdc
14 Agustus 2020 15:01
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sejak naik kelas 2 SMA, aku bertingkah aneh, dan aku sendiri mengakui kepribadianku yang amburadul dan berperangai buruk. Di rumah, di media sosial, di sekolah, di gereja bahkan di tempat kursus, tingkahku berbeda-beda. Kadang seperti malaikat, atau iblis. Tidak kutahu pasti, namun keinginanku untuk hidup bebas mulai liar sejak saat itu. Rumah yang dari dulu membawa beban dalam dadaku tidak kunjung padam juga. Sekolah yang hobi mendoktrin dengan bukti yang berseberangan juga turut andil membawa penyakit dalam keremajaanku, atau media sosial yang sibuk memajang postingan tiap individu yang terbelit dengan masalah finance, sosial, asmara bahkan drama dan polemik keluarga juga ikut-ikutan  menggoresi linimasa media sosialku. Setiap orang menyumbang setiap masalah yang membuatku kadang ingin gila, namun masih waras.

            Bel pulang sekolah berdering riang yang disusul dengan teriakan dan suara gaduh siswa di setiap ruangan. Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku menyibukkan diriku dengan bertandang ke perpustakaan sekolah sembari melihat atmosfir ruangan perpus yang sepi. Seperti biasa, aku selalu setia dengan backpack hitamku setiap ingin menyusuri rak-rak buku mata pelajaran. Dengan modal keberanian, aku menyusupkan beberapa buah kliping, proposal ataupun novel dalam backpack sambil menyiasati keseragaman pergerakan tangan dan bola mataku yang tidak terlalu indah. Setelah merasa kondusif, aku akan melangkahkan kakiku meninggalkan perpustakaan dengan segumpal rasa takut namun puas. Buku-buku tersebut akan kutaruh ke dalam sebuah brankas di pojok kamarku. Buku yang menggunung tersebut akan berdebam bila dikenai lebih banyak buku lagi, dan berdebu lalu kusam dengan bentuk perawan.

“Kenapa baru pulang Nogu?”

“Ada kerja kelompok Ina.”

“Makanlah. Ada tauge dalam tudung saji”

            Ibuku tidak sebiadab yang kalian pikirkan. Ia peduli. Amat. Namun, kadang pedulinya membuatku sakit dan terancam. Setiap malam adalah mimpi buruk bagiku. Di dalam selimut berbahan kain, aku menggigil karena takut digigit masa lalu. Aku takut bila gelap dan hujan deras datang berbarengan, memecah kesenduan malam yang memekik karena diperkosa. Dan suara tangisan malam yang malang itulah yang menjadi sinyal buat ibu terbangun pada malam hari dan bergegas membuka pintu kamarku untuk merapikan selimut pada badanku yang meriang.

“Nanti tolong bangun lebih awal ya, soalnya ada ibadah malam ini. Selesaikan pekerjaan memasak” Pesan Ibu ketika aku masuk ke dalam bilik kamarku.

Bunyi derap langkah kaki manusia yang melintasi bagian samping rumah terdengar merdu di telingaku. Dari arah barat, aku mendengar suara ayam yang berseru kehausan, disusul dengan teriakan hewan ternak yang memekik kelaparan. Astaga! Aku telat bangun. Tanpa menunggu detak jantung selanjutnya, aku langsung mendaratkan tubuhku ke dapur.

“Jam segini baru bangun. Ini piring belum dicuci, makanan belum dibereskan. Rumah berantakan. Perempuan apa yang baru bangun jam segini??”

Aku hanya berlalu tanpa membalas. Menangis pun tidak. Aku memang salah. Bentakan dan makian yang diaksarakan terdengar ngilu membidik jantungku. Kugerakkan tanganku menakar beras untuk dimasak ke dalam mesin penanak nasi.

Aku hampir mengakhiri pekerjaan memasakku, ketika Ibu menyuruhku untuk merebus air  untuk   mandinya. Dengan hati yang bersungut-sungut, aku segera menaruh dua gayung air ke dalam panci berselimut hitam. Aku maklum. Ibu sedang hamil tua. Sembari menunggu mendidih, aku memainkan ponsel di dalam kamarku.

“Astaga!!” Suara teriakan Ibu menghantam telingaku. “Tari, kesiniiii!!!” Teriaknya lagi

Aku tergesa-gesa berlari menuju dapur dan mendapati panci yang sedang memuntahkan kemarahannya.

Ibu spontan mencubit pahaku

“Sakit loh Ina ah!” Balasku keras

“Melawan kamu? Kamu ngapain ke kamar? Facebook-facebookan terus!!” Suara Ibu terdengar riuh lagi

“Tadi ada ngecek tugas.”

“Pake Hp kan kamu? Kan dari kemarin Ina udah bilang sama pamanmu jangan beli hp Tari! Siniin hpnya! Biar Ina sita!!” Tegas Ibu sambil setengah berlari menuju kamarku.

“Gak mau Ina. Jangan disita HPnya” Aku mulai menangis dan mencoba menghentikan pergerakan Ibu

“Awas!! Jangan drama kamu!! Bereskan kompor itu Tari!!” Ibu menatapku penuh amarah.

Aku diam karena capek.

Segera kubersihkan kompor yang membanjir karena tertumpah air panas. Aku berniat untuk memasak air yang baru lagi, dengan harapan amarah Ibu akan reda. Ketika akan mengangkat panci yang masih bersisa,

“Ngapain lagi kamu?” Bentak Ibu sambil menggenggam kuat ponselku pada tangan kirinya.

“Masak air lagi Ina!!”

“Kamu pikir kompornya sudah bisa dipake?? Kompornya sudah rusak!!” makanya kalau ada pekerjaan itu dijaga, bukan cari jodoh di fb. Pake otak kamu!!” teriak Ibu sambil menggocoh kepalaku

Aku mengelakkan kepalan tangan Ibu di kepalaku.

“Berani kamu lawan Ina??!! Hah? Berani kamu Tari?” Tanyanya lagi

“Kepalaku sakit Ina!!” Ina mau tau gak gimana sakitnya?” aku menengadahkan wajahku ke arahnya. Mataku sudah sangat sakit, dan pedih.

“Gimana, gimana sakitnya?” tanyanya sambil melangkah mendekatiku”. “Begini kan rasanya?”

Dan duhh, kukunya menggilas bagian mulutku. Sakit.

“Awas Ina!!” Teriakku bangkit sembari menenteng panci berisi air panas.

Tanpa babibu, Ibu mendorongku ke dinding dan mencakar bagian lenganku. Belum sempat aku melawan, tiba-tiba kakiku terpeleset. Bersamaan dengan itu, rasa panas mengguyur kaki bagian bawahku. Rasanya kakiku soak dan lumpuh. Melepuh dan mengelupas. Sakit sekali rasanya tersiram air panas.

“YESUSSSS!!!” Teriakku. Air mataku tercekat di antara sela-sela pupil mataku.

“Sini, Ibu bantuin!!” Kata Ibu lemah sambil berusaha meluruskan kakiku yang tertekuk

“Pergi!! Pergi kau setan!!” Usirku kasar. Aku sudah sakit hati. Rasanya daging kulitku yang terkelupas sedang dilumuri sejumput garam dan cuka di permukaannya.”

“Nogu, sini. Sini kakinya!!” mimik Ibu terlihat khawatir

“Awas kau setan!! Pergiiiiii…….!!” Aku mencoba meraba-raba kain yang berada di dekatku.

“He Nogu, maafin Ina. Sini nogu biar Ina keringkan.” Ujar Ibu sambil menangis. “Pa, Pa sini!! Tari, Tari pa!!” teriak Ibu lagi

“Pergi!! Awasss!!” nafasku sudah tercekat karena sesak. Aku menggeserkan tubuhku dari Ibu. Aku tidak mau kandungan Ibu yang riskan itu akan terkena batunya juga.

“Tari, kenapa kau Tari?” Imran, pria biadab itu mencoba mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya dengan 4 jari yang masih utuh. namun lagi-lagi luka dalam hatiku tidak sebanding dengan luka pada kakiku yang sedang melepuh.

“Pergi Iblis!!” Teriakku. Aku mencoba bangkit, namun kakiku terasa berat “Kau, kau Imran” kataku sambil menunjuk wajahnya dengan telunjukku. “Kau apakan keluarga kami biadab?!’ kenapa dulu kau perlu datang ke sini?? Hahhh!!!! Pergi kau!! Pergi Keparat!!” Aku meledakkan amarahku yang selama ini kusimpan rapi.

“Menjauh Ina!! Menjauh aku bilang!!!” aku semakin frustasi dengan sikap Ibu yang tiba-tiba menyesal.

Dengan perutnya yang besar, Ibu memeluk kaki kiriku sambil berkata

“Kasihani Ina, Nogu.”

Tanpa basa-basi aku melepaskan diriku dari tautan Ibu. Ibu langsung terjengkang sambil memegang perutnya yang besar.

Amarah Imran sudah naik ke ubun-ubun, ia langsung berlari ke belakang rumah, kemudian kembali membawa sebilah bambu tebal. Ia mengarahkan ke arahku. Aku yang belum siap untuk menghindar, hanya menunduk pasrah. Lantas Ibu memelukku untuk melindungi dari pukulan. Lalu terdengar bunyi kulit beradu dengan bambu. Aku meraung, aku menggilas gigiku dengan gigi lainnya.

Capek dengan drama yang bertubi-tubi, drama salah pukul, drama penyesalan, dan drama merohanikan dosa, aku menyeret kakiku meninggalkan Imran yang sedang memeluk Ibu. Aku tidak peduli. Rasanya aku sudah gila dengan banyak drama ini

“Jangan pergi tari. Nogu…..!!!” suara Ibu menyayat batinku

Lalu kubalas dengan suara dentuman pintu

Dengan kaki telanjang dan terseok-seok, aku menyusuri halaman belakang rumahku. Semakin masuk ke dalam, semakin gelap. Kelam, dan hitam pekat. Aku meraba-raba sekelilingku. Kosong, hampa.

Lalu kurasakan sebuah tangan membekap mulutku. Nafasku tercekik, mataku memanas. Jantungku berdenyut lunglai. Aku sempat mengelak dari gerakan tangannya yang semakin beringas melalapi bagian wajahku. Ia tetap kuat. Tubuhnya besar dan kaku. Lalu tubuhku dikeroyok lagi dengan puas hingga kurasakan bagian jantungku disesaki sebuah benda runcing. Beberapa detik kemudian aku merasakan jiwaku diboyong oleh ruh lain. Aku menegang, kugenggam erat jari jemarinya yang tidak utuh.

Ina, kita terlalu malang!!


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •