The Guardian : Healing Inside You ~ Eps. 1: Udahan, Yuk!

Safar Safiir
16 Desember 2023 15:15
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Assalamualaikum! Hai, aku Raihanah Saphire Orlin, panggil saja Raina. Supaya lebih akrab, juga agar aku mudah mengenali kalian jika suatu hari kalian menyapaku lebih dulu. Ah, aku paling tidak pandai mendeskripsikan diriku sendiri. Usiaku tujuh belas tahun, hendak naik ke kelas 12 SMA. Anak kedua dari dua bersaudara. Aku berdarah campuran Arab-Indonesia, Umma berasal dari Madinah, Saudia Arabia dan Baba berasal dari Kota Kudus, Indonesia. Banyak orang bilang aku adalah duplikat dari sosok Umma, jadi kalian bisa sedikit membayangkan bagaimana rupaku. Sebenarnya, aku tidak tahu banyak soal orangtuaku. Saat ulang tahunku yang kelima, umma dan baba pergi ke Madinah setelah mendapatkan kabar duka atas meninggalnya kedua orangtua Umma saat melaksanakan ibadah umroh di tanah suci. Satu pekan setelahnya, banyak orang berbondong-bondong memadati rumah kami dengan pakaian serba hitam dan secara bergantian mengatakan padaku, “Bersabar Raina! Kelak kamu harus tumbuh menjadi gadis yang kuat dan shalihah, agar umma dan baba bahagia di sisiNya”. Saat itu, aku tidak tahu apapun. Namun, kini aku paham. Umma dan Baba sudah tiada.

Banyak kenangan bersama umma dan baba yang memudar dalam ingatanku, bagaimanapun saat itu aku hanya seorang gadis kecil yang baru saja berusia lima tahun. Satu-satunya peninggalan umma dan baba yang kuingat adalah pengajaran mereka tentang islam dan bahwa aku ada seorang muslimah, tuhanku ialah Allah, nabiku Muhammad shalallahu’alaihi wasallam, pedomanku ialah al-Qur’an, dan kewajibanku adalah beribadah kepada Allah. Namun, sepertinya mereka lupa memahamkan aku tentang pentingnya semua pengajaran itu dalam kehidupanku. Tapi, segala puji bagi Allah yang telah menghadiahkan seorang anak lelaki dari rahim umma yang dengan penuh keikhlasan menerima estafet amanah dari umma dan baba untuk merawat dan mengajarkan pendidikan islam kepadaku. Baiklah, ini dia saatnya kuperkenalkan pada kalian satu-satunya saudara dan keluarga yang kumiliki, sepeninggal umma dan baba. Abangku, Bang Ahwaz. Lelaki inilah yang kemudian membangunkan citraku di mata orang-orang sebagai sosok gadis muslimah yang begitu taat pada syariat dan menjunjung tinggi nilai agama islam dalam kehidupanku. Berpakaian islami, dari ujung kepala hingga ujung kaki tertutupi oleh kain pakaian yang aku kenakan. Berperilaku Islami, lemah lembut dalam bertutur kata dan bersikap, penuh dengan pemikiran positif, dan hari-harinya dipenuhi dengan penghambaan diri kepada Sang Pencipta, Allah. Memiliki pengetahuan islam yang begitu luas dan kaffah. Seakan sulit sekali bagi mereka menemukan celah keburukanku.

Walaupun begitu, tetap saja tidak ada manusia yang bisa berlepas diri dari kekurangan dan kesalahan. Aku pun begitu. Sungguh banyak sekali keburukanku yang Allah tutupi dari pandangan orang-orang. Siapa yang menyangka bukan, bahwa gadis muslimah yang begitu disanjung ini sangat gemar menonton serial drama. Tapi, hal yang lebih tidak kusangka lagi, bahwa aku baru menyadari selama dua tahun ini aku telah memerankan sandiwara dengan seorang lelaki yang sangat mirip dengan alur cerita dalam salah satu serial drama yang pernah kutonton. Jadi sebelum seluruh adegan dalam serial drama tersebut selesai kumainkan dalam sandiwaraku bersama seorang teman lelakiku, kuputuskan hari ini aku akan mengakhiri saja sandiwara ini sebagaimana pemeran utama wanita menyelesaikan kontrak hubungan romansanya dengan pemeran utama pria dalam serial drama tersebut.

“Rayyan, kita udahan, yuk!” Ucapku mengutarakan maksud dari pembicaraanku yang sebenarnya, sebelum lawan bicaraku salah paham dengan topik obrolan yang kubuka saat Syauqi dan Raniah meninggalkan kami berdua di sisi jalur lari, salah satu lapangan olahraga di Kota Bandung, usai kami melakukan tujuh putaran lari pagi bersama.

“Udahan, mau balik rumah, maksud lu?” Rayyan mengkonfirmasi maksud pertanyaanku yang memiliki banyak makna.

“Sandiwara kita, sampai sini aja! Lagian, lu juga udah ngelanggar aturan main kita, kan?” Aku memperjelas maksud kalimatku, sambil memalingkan wajahku yang tersenyum tipis ke arah lapangan. Rasanya munafik sekali ketika aku sedang sadar melakukan kemaksiatan, namun aku masih tetap kukuh beretika sesuai syariat islam ketika sedang berbicara berhadapan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Rasanya seperti sudah ada pengaturan dalam tubuhku yang membuatku tidak bisa menatap wajah lawan bicara yang bukan mahramku lebih dari lima detik.

Entahlah, apakah sudah mulai tumbuh kecurigaan dalam benak kalian atau belum. Namun sebelum kecurigaan itu berbuah menjadi prasangka-prasangka terhadapku, ada baiknya kalian dengarkan dulu ceritaku. Cerita awal mula sandiwara ini dimulai, baru setelah itu kalian boleh menilai apakah sandiwara ini karena kebodohanku karena tidak bisa menahan hawa nafsu dari syahwatku atau karena kebodohanku yang kalah dalam mengabaikan bisikan tipu daya dari makhluk Allah yang terkutuk. Baiklah jika kalian sudah siap, maka izinkanlah aku untuk memulai ceritaku.

-To be Continued-


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •