The Guardian : Healing Inside You ~ Eps. 2: International Islamic Middle School

Safar Safiir
17 Desember 2023 12:08
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Juli, 2020

Hari ini adalah hari pertama di tahun terakhirku bersekolah di International Islamic Middle School. Seperti biasanya, aku sampai di sekolah tepat satu jam sebelum bel masuk sekolah dan segera memeriksa papan pengumuman sekolah, yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk IIMS, yang telah terpasang lembaran kertas yang berjejeran, memperlihatkan nama-nama siswa di setiap kelas. Salah satu kebijakan yang ditetapkan oleh yayasan Al-‘Abid dalam mengelola sekolah yang dinaunginya dari tingkat SD-SMA ialah merombak komposisi murid di setiap kelas dari tiap tingkatan yang bertujuan untuk memacu semangat baru bagi murid-murid didiknya di awal tahun ajaran baru.

“Raihanah Saphire Orlin” Aku berbisik dengan kedua mata dan jari telunjuk kananku yang bergerak cepat meyusuri setiap lembaran kertas yang berisikan nama-nama kelas dan murid kelas 9 di IIMS, mencari nama kelasku baruku.

“Ah, Zubair Bin Awwam!” Aku berseru dan hampir menjerit kegirangan ketika menemukan namaku dan kedua sahabatnya, Raniah dan Syauqi, berada di kelas yang sama yang juga merupakan kelas impiannya sekaligus nama salah satu sahabat Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang aku kagumi karena keberaniannya dan kecerdasannya saat memerangi musuh-musuh Allah dan kekasihNya di medan perang. Selain itu, kisah persahabatannya dengan  Thalhah in Ubaidilah yang dikisahkan pada akhir hayatnya mereka dikuburkan oleh Khalifah Ali bin Aib Thalib dalam satu liang lahat karena kecintaan mereka kepada Allah dan KekasihNya, menajdi inspirasiku selama bertahun-tahun dalam menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabatnya. Persahabatan yang dilandasi cinta kepada Allah dan Rasulullah. Rasanya tidak ada persahabatan manpun yang lebih indah dari itu.

Satu lagi kreativitas Yayasan Al’Abid dalam mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan murid didiknya dalam mencintai sahabat-sahabat Rasulullah ialah dengan menamai setiap kelas dengan nama-nama para sahabat dan tokoh-tokoh islam yang dimuliakan oleh Allah. Ada tiga kategori asal-muasal nama yang diberikan oleh yayasan Al’Abid pada setiap kelas dari tiap tingkatan. Nama kelas pertama diambil dari nama-nama sahabat Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam yang pertama kali masuk islam atau yang dikenal dengan ‘Assabiqunal Awwalun’. Oleh karena itulah, kelas yang diberikan nama ‘Assabiqunal Awwalun’ ini menjadi kelas unggulan yang berisikan siswa didik IIMS yang memiliki kepribadian yang mencerminkan karakter seorang muslim.

Nama kelas kedua diambil dari nama-nama wanita yang dijanjikan surga oleh Allah subhanahu wata’ala. Sesuai nama kelasnya, maka siswa didik IIMS yang duduk di kelas ini bisa dipastikan didominasi oleh murid perempuan. Oleh karena itu, bagi murid perempuan perlu untuk memeriksa terlebih dahulu nama mereka setiap tahun ajaran baru untuk memastikan kelas mereka pada tahun ajaran tersebut, berbeda dengan siswa laki-laki yang 90% bisa dipastikan akan memasuki kelas pertama. Kecuali jika mereka merupakan anak-anak atau keturunan dari para petinggi dan pengurus Yayasan Al-‘Abid yang dikhususkan dalam satu kelas dengan tujuan untuk mendidik dan membina mereka sebagai seorang pemimpin, maka dari itu nama kelas yang diberikan untuk kelas tersebut ialah nama-nama Khalifah Arrasyidin. Oleh karena itu pula, tak heran jika pemimpin-pemimpin club atau organisasi di IIMS adalah siswa-siswa yang berasal dari kelas tersebut.

Aku melirik arloji di tangan kiriku yang telah menunjukkan waktu pukul 07.15 WIB dan bergegas menuju ruang kelas baruku yang berada di lantai tiga gedung IIMS sambil menebarkan senyum dan menyambut setiap murid IIMS yang menyapaku di sepanjang lorong kelas. Sesampainya di kelasku, belum banyak murid yang datang. Termasuk kedua sahabatku. Memang sih, ini masih terlalu pagi. Jadi kuputuskan saja untuk mengeluarkan sepasang sandal dari dalam ransel biru mudaku dan menaruh ranselku di loker yang berada di bagian belakang kelas. Aku memeriksa waktu yang tersisa sebelum bel  masuk kelas dibunyikan. Masih ada 45 menit lagi.

Setelah kutemukan meja belajar yang telah tertulis namaku diatasnya, aku segera mengganti sepatuku dengan sandal dan menyimpan sepatu kets hitamku di bawah meja. Seperti biasa, aku akan menghabiskan sisa waktu sebelum pembelajaran sekolah dimulai di Al-Muhajirin, nama masjid di IIMS yang terletak di pojok tenggara gedung pembelajaran. Sejujurnya, inilah salah satu alasanku begitu mencintai yayasan sekolahnya, karena mereka selalu mengutamakan pembangunan masjid yang begitu mengagumkan dan mengindahkan mata untuk membuat jamaahnya betah berlama-lama di dalamnya, bukan hanya untuk beribadah melainkan juga untuk sekadar mengistirahatkan tubuh dari lelahnya tanggungjawab menjadi murid ataupun guru. Apalagi Masjid Al-Muhajirin memiliki koridor, juga halaman rumput dan taman yang luas dan indah. Selain itu, masjid ini sangat menjaga batasan area antara jamaah ikhwan dan akhwat, baik tempat sholat maupun tempat wudhunya, yang saat ini sulit sekali menemukan masjid seperti ini di Ibu Kota Jawa Barat.

Aku meletakkan sandalku di rak usai mengambil wudhu dan menaiki tangga masjid menuju lantai tiga, area shalat favoritku. Sebenarnya, di setiap lantai bangunan masjid ini sudah disediakan area khusus yang telah diberi hijab atau pembatas agar jamaah perempuan dapat nyaman beribadah tanpa terganggu dengan lalu-lalang atau pandangan mata dari jamaah lelaki yang tidak sengaja memandangnya. Namun sejak tahun pertamaku bersekolah di IIMS, aku sudah jatuh cinta dengan area ibadah  akhwat  yang berada di lantai tiga Al-Muhajirin ini. Menurutku, suasana di area ini terasa lebih khusyuk, sekaligus dapat bertadabbur alam dengan  melihat pemandangan indah yang memanjakan mata dari balkon masjid.

Allahumaftahli Abwaba Rahmatik” Kubisikkan lantunan doa masuk masjid saat hendak memasuki pintu masjid di lantai tiga bangunan masjid tersebut. Wangi harum segera tercium oleh indra penciumku sejak langkah pertamaku memasuki masjid. Alangkah indah jika hal ini didapatkan di setiap tempat sholat lainnya, agar membuat jamaah masjid merasa khusyuk selama beribadah di masjid. Setelah memilih spot untuk beribadah, segera saja aku menggelar sajadah kecil dan mengenakan mukenaku. Kemudian aku memejamkan mata, meninggalkan sejenak segala pikiran-pikiran duniawi dan berusaha untuk memusatkan seluruh pikiranku kepada Sang Penciptaku. Aku membisikkan niat di dalam hati, bersiap untuk menikmati setiap kemesraanku dengan Sang Pencipta dalam setiap doa dan gerakan shalat dalam empat rakat shalat dhuhaku.

—–

“Astaghfirullahal’adhim” Terdengar sebuah suara bernada kesal dari seorang murid Perempuan yang baru saja datang dan hendak mengenakan mukenanya dari sebelah kananku. Aku buru-buru mengusap wajahku yang basah oleh air mata dan segera menengok ke sumber suara yang begitu familiar.

“Raniah?!” Kedua telapak tanganku bergerak reflek menutupi mulutku yang hampir berteriak kegirangan mendapati satu-satunya sahabat perempuanku telah berdiri di sebelahku.  

“Guess what?!” Todong Raniah dengan sebuah pertanyaan, setelah aku mengetahui keberadaannya.

“You should back to class right now, Saph! Tadi aku udah minta Syauqi jemput kamu di bawah, biar bareng ke kelasnya. Aduh, jangan sampe trauma kamu kumat di sekolah, Saph! Raniah menjawab sendiri pertanyaannya sambil memegangi kerudung mukena putihnya dengan motif bunga-bunga yang hendak ia kenakan.

Sejujurnya, aku enggak begitu tahu apa yang sedang dimaksudkan Raniah. Tapi sampai hari ini tidak ada yang lebih tahu tentang traumaku tiga tahun lalu, kecuali Raniah. Jadi jika Raniah sudah berkata demikian, aku yakin dia sedang membantuku agar terhindar dari faktor yang dapat memicu reaksi psikologisku terhadap traumaku yang sudah satu tahun terakhir ini tidak pernah kambuh.

–To be Continued–


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •