The Guardian : Healing Inside You ~ Eps. 8 : Begging

Safar Safiir
24 Desember 2023 00:11
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Udah, lu tenang aja. Gua udah nyuruh Afkar gantiin gua jagain lu. Kalo ada apa-apa, gua udah minta Afkar buru-buru ngabarin gua. Ntar gua samper kesini.” Syauqi akhirnya membuka suaranya, walaupun tidak sedikit pun terkihat adanya perubahan ekspresi yang ia gambarkan di wajahnya.

“Jangan! Gue enggak mau ganggu latihan lo! Ini kan turnamen impian lo, Qi. Udah berbulan-bulan lo nungguin buat balasin dendam lo setelah tim basket IIMS kalah di turnamen itu tahun lalu. Gua enggak mau lo ngorbanin latihan lo cuma demi gua.” Sanggahku, tidak setuju dengan penjelasan Syauqi barusan, tanpa sedikitpun berniat menghadapkan wajahku ke tempatnya berada.

“Ya bagus! Kalau gitu, jangan sampe ada kejadian apa-apa selama gua latihan!” Syauqi meninggikan suaranya garang.

“Enggak bisa janji” Aku berkata pelan sambil memainkan selimut yang menutupi setengah badanku dan melemparkan pandanganku ke sembarang arah, menghindari berhadapan dengan Syauqi. Inilah salah satu ciri khasku ketika aku merasa tidak nyaman dengan suatu kondisi ialah aku akan menggerakkan anggota gerakku atau memainkan apa saja benda yang ada di sekitarku sambil menghindarkan pandanganku dari subjek yang membuatku tidak nyaman untuk menenangkan perasaan dan emosiku yang tidakí stabil.

Jujur saja, aku paling tidak suka dibentak. Itulah sebabnya, aku tidak pernah dengan sengaja membentak lawan bicaraku apapun kondisinya. Itu adalah salah satu pelajaran dalam berkomunikasi dan membina hubungan denga orang lain yang diajarkan Bang Ahwaz saat aku berusia 7 tahun, pertama kalinya aku bersekolah dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang masuk ke dalam hidupku.

“Kalo ngobrol, menghadap ke lawan bicara, Raina!” Syauqi menegur sikapku yang membuatnya tersinggung sekaligus khawatir dengan volume suara yang telah kembali normal, namun tetap dengan nada bicara yang datar dengan memberikan penekanan di awal dan di akhir kalimatnya. Aku membungkam mulutku, malas memberikan respon apapun untuk menanggapi Syauqi. Bagaimanapun, perasaanku sudah lebih dulu terlukai karena bentakannya tadi. aku tidak tahu apa yang Syauqi pikirkan saat ini, namun jujur saja, sebenarnya ini adalah kali pertama Syauqi membentakku.

“Sori, Na! Gue enggak bisa ngendaliin emosi gue.” Sesal Syauqi memgakui kesalahannya tanpa merubah nada bicaranya yang datar. Meskipun begitu kali ini suaranya terdengar sedikit melembut di telingaku, sehingga cukup berhasil membuatku kembali memberanikan diri untuk menatapnya.

“Kenapa harus Afkar sih, Qi?” Protesku setelah sekian lama mulutku membungkam suara hati kecilku yang menolak keputusan sepihak Syauqi tanpa mendiskusikan dulu denganku.

“Lo tega ninggalin gua berduaan doang sama ikhwan yang bukan mahrom gue di ruangan tertutup ini?” Tanyaku sambil memasang ekspresi memelas di wajahku dengan harapan usahaku ini dapat melunakkan hati Syauqi yang begitu keras dengan tekadnya untuk menghindarkan aku dari Raniah. Namun, tetap saja keputusannya justru bisa menghantarkan aku untuk melakukan suatu kemaksiatan yang sudah jelas melanggar syariat islam.

Berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim atau dalam syariat islam dikenal dengan sebutan berkhalwat adalah salah satu kemaksiatan yang berulang kali diingatkan oleh Bang Ahwaz agar aku menghindarinya, apapun kondisinya, mengingat usiaku yang beranjak remaja, maka sudah saatnya nafsuku memiliki fitrah untuk menyukai lawan jenisku. Sebetulnya Syauqi yang selalu menengoki dan menemaniku di ruang perawatanku selama perawatan di rumah sakit, juga membuatku merasa tidak nyaman. Walaupun dia sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, tetap saja tidak akan merubah identitas Syauqi sebagai seorang lelaki remaja dan yang paling penting ia bukan mahromku. Itulah mengapa aku berharap Syauqi bersedia membawa Raniah tiap kali ia menjengukku di rumah sakit, apalagi Mbok Halimah yang sudah berkeluarga dengan Pak Bimo dan sedang sibuk mengurusi anak ketiganya yang baru berusia 4 bulan, tidak bisa kurepotkan untuk selalu menemaniku di rumah sakit. Tapi memang dasar Syauqi terlalu keras kepala, sulit sekali membuatnya mengingkari keputusannya sendiri jika sudah bertekad. Kalau saja bukan karena Syauqi adalah orang yang dipercayai Bang Ahwaz, aku tidak akan sudi membiarkannya menjagaku sendirian sepanjang waktu aku dirawat di rumah sakit. 


“Gua udah minta tolong Mbok Halimah buat nemenin lo juga, Na. Enggak bakalan berduaan doang sama Afkar, Na. Percaya sama gua, Na! Gua tau apa yang gua lakuin. Jangan lupa, gua juga kan, adik binaan abang lo!” Jawab Syauqi berusaha menenangkan kekhawatiranku.

“Qi, Mbok Halimah kan lagi punya bayi! Kenapa malah direpotin?” Aku kembali mengajukan protes atas keputusan syauqi yang lagi-lagi hanya diputuskan secara sepihak, tanpa meminta pendapat atau pertimbangan dariku lebih dulu.

“Gua enggak ada pilihan, Na! Lagian, Mbok Halimahnya bersedia, kok!” Sanggah Syauqi bersikukuh dengan keputusannya.

“Ya jelas Mbok Halimah mau lah, Qi! Lo lupa gimana beliau ngerasa berhutang budi sama keluarga gua? Mbok Halimah sama Pak Bimo kan, udah diterima kerja di keluarga gua dari mereka lulus SD. Belum lagi umma sama baba biayain mereka buat lanjut sekolah SMP-SMA kan. Apalagi Pak Bimo, abis lulus SMA langsung diajarin nyetir mobil langsung sama baba gua. Lagian Qi, lo coba pikir deh, kalo lo jadi Mbok Halimah. Pertama, ini hari libur dan peraturan di keluarga gua, setiap hari libur Pak Bim dan Mbok Halimah dipersilakan mengambil hari liburnya. Kedua, anak mereka ada tiga, Qi! Masih kecil-kecil. Ina aja baru mau masuk SD, Tuti juga baru umur tiga tahun. Nah, sekarang mereka juga pasti lagi kerepotan ngasuh bayi mereka yang baru usia dua bulan. Daripada kerja, mending hari liburnya mereka pake ngasuh anak dong, Hamiz Syauqi Fakhrullah! Mereka kan enggak mungkin nyewa pengasuh, Qi. Apalagi orangtua mereka jauh di kampung!” Aku bertubi-tubi menceramahi Syauqi dengan harapan ia dapat tersadar dan berbaik hati merubah pikirannya untuk mempersilakan Raniah menemaniku selama ia sibuk dengan latihan dengan tim inti basket IIMS untuk menghadapi berbagai pertandingan di turnamen nasional akhir tahun ini. 


“Hem… ngeliat lo udah bawel gini, kayaknya besok juga lu udah boleh pulang deh, Na!” Guyon Syauqi berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang sedang kami bahas. 

“Syauqi, gua lagi serius! Bisa sebentar aja, enggak lo campur adukin waktunya bercanda dan serius?” Aku menatapnya tajam sambil menahan emosi amarahku yang meluap-luap di dalam hatiku. Kali ini aku tidak main-main lagi, dia benar-dia sudah melewati batas. Syauqi merapatkan kedua bibirnya dengan kuat, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat hidungnya kembali. Ia menarik kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri ke dekat ranjang tidurku dan mendudukkan tubuhnya dengan tenang. 

“Yaudah, gua minta maaf ya, Raihanah Saphire Orlin. Iya, gua salah. Gua minta maaf. Lo maafin gua, kan? Allah cinta hambaNya yang pemaaf loh, Na!” Bujuk Syauqi sambil berulang kali meminta maaf padaku, namun amarah dalam dadaku masih menggebu-gebu. Sebenarnya mudah saja bagiku untuk mengiyakan permohonan maafnya. Tapi aku ingin memaafkannya dengan perasaan tenang dan mengiyakan permohonan maafnya dengan penuh keikhlasan, agar suatu saat kelak, jika Syauqi berbuat kesalahan yang sama, aku tidak akan mengungkit kembali kesalahannya saat ini. Jadi, aku memutuskan untuk diam dan memalingkan wajahku dari Syauqi dan menghadapkan wajahku untuk melihat tembok putih polos yang ada di depanku. Aku berusaha menenangkan diri sejenak sambil memejamkan mataku dan melakukan teknik napas dalam yang pernah diajarkan saat pelatihan tim PMR IIMS.

“Gini deh, sekarang lo maunya gimana? Nanti gua pertimbangin usul lo!” Tanya Syauqi menawariku untuk berdiskusi bersama. 

“Izinin Raniah nemenin gua disini! Selama lo latihan basket. Toh enggak lama kan, Qi! Lusa juga gua udah bisa pulang.” Akhirnya aku berhasil mengutarakan keinginanku yang telah kupendam dan kusimpan rapat-rapat di dalam hatiku. Kali ini, aku sangat berharap Syauqi mau mempertimbangkan keinginanku sebagai subjek pertama dalam kasus ini. 

“Iya, kalo kondisi lu stabil. Kalo enggak, belum tentu pulang, kan?” Sanggah Syauqi berusaha menolak usulanku yang berlawanan dengan kehendaknya. 

“Ya Allah, Qi! Kok lo jadi pesimis gini, kemarin waktu gua enggak sadar aja lo sibuk banget nyemangatin gua buat sehat. Inshaallah Qi, gua bakal jaga kondisi gua tetep stabil dan bakal pulang sesuai jadwal. Lagian dari dulu kan, emang Raniah yang ngerawat gua kalo gua sakit.” Aku berusaha meyakinkan Syauqi dengan keputusan yang aku usulkan. 

“Lo kenapa sih, segitunya peduli banget dan selalu aja ngebentengin Raniah kalo dia ada masalah. Lo enggak bisa apa liat dengan mata kepala lo, pikir Na! Emang worth buat lo? Lo sampe jatuh bangun demi ngelindungin dia dan bikin dia hepi, tapi apa lo terima balasan dari dia, at least yang setimpal sama yang udah lo lakuin buat dia, hah? Enggak, kan? Serius deh, Na! Jujur sama gua! Lo punya utang budi sama Raniah? Sini dah, gua gantiin. Lo ada utang apa sama dia sih, Na?” Kesal Syauqi sambil mengutarakan isi hatinya selama ini tentang perlakuanku kepada Raniah dengan begitu emosional. Sudah kuduga, dia pasti akan mengungkit hal itu setiap kali dia bertengkar dengan Raniah karena berusaha melindungiku. 

“Please, Raina! Kali ini, nurut sama gua! Enggak usah minta macem-macem yang bikin gua khawatir, bisa?” Tanya Syauqi memohon padaku. Suaranya sudah kembali melembut setelah ceramah panjang lebarnya yang penuh amarah tadi. Aku tahu, dia tidak ingin membuatku terluka.

— To be Continued —


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •