The Guardian : Healing Inside You ~ Eps. 10 : Saudara Angkat Syauqi

Safar Safiir
28 Desember 2023 15:55
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!” Seorang remaja lelaki bertubuh bugar dengan tinggi badan yang tidak jauh berbeda dengan Syauqi membuka pintu kamar rawatku dan berjalan santai menghampiri aku dan Syauqi yang segera menghentikan percakapan kami terkait penyakit mentalku. 

“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh!” Aku dan Syauqi serempak menjawab salam Afkar, saudara angkat Syauqi sekaligus rekan timku saat olimpiade pengetahuan islam nasional selama dua tahun berturut-turut. 

“Cuma berdua? Kok pintunya ditutup?” Tanya Afkar dengan nada bicara seperti sedang menginterogasi kami sambil menunjukkan jari telunjuknya kepadaku dan Syauqi secara bergantian, kemudia menunjuk pintu kamar rawatku. 

“Lo berdua kan nggak muhrim, cewek sama cowok berduaan di tempat tertutup gini. Emang enggak termasuk berkhalwat ya?” Afkar melanjutkan ceramahnya melihat aku dan Syauqi melakukan hal yang tidak sesuai dengan syariat islam dalam hal interaksi dengan lawan jenis. 

“Tuh, kan, Qi! Gua bilang juga dibuka aja pintunya kalo berdua doang! Lo mah sosoan demi menjaga istirahat gua berkualitas. Apaan! Lagian ini kan lantai rawat VVIP Hamiz Syauqi Fakhrullah! Enggak mungkin ada orang lalu lalang, keluar-masuk selain perawat sama dokter. Jadi dimarahin ketua tim gua, kan!” Aku mengomel, melimpahkan kesalahan yang dituduhkan Afkar kepada Syauqi. Lagipula sejak pertama kali Mbok Halimah meminta izin untuk tidak menemaniku lagi di rumah sakit, aku sudah berulang kali mengatakannya pada Syauqi. Tapi, memang dasarnya Syauqi keras kepala dan sulit sekali mendengarkan pendapat orang lain sekalipun adalah pendapat yang benar tentang perbuatannya. 

“Tuh kan, Na! Gua bilang juga apa? Enggak usah takut Afkar gantiin gua jagain lo disini.” Seru Syauqi berdalih untuk mengalihkan topik pembahasan sekaligus menghindarkan dirinya sebagai subjek yang disalahkan atas nasihat Afkar barusan. 

“Kenapa? Lo takut sama gua? Atau lo mau sekalian gua minta Thariq kesini jagain lo?” Goda Afkar tanpa sedikitpun mengubah ekspresi wajah dinginnya dengan tatapan matanya yang tajam dan nada bicaranya yang membuat lawan bicaranya sedang diinterogasi oleh pihak sipil. 

“Ah! Afkar, lo ya! Suka banget bikin gosip baru tentang gue! Lo punya dendam sama gue selama jadi rekan tim kemarin?! Dih, orang-orang yang gatau pasti enggak bakalan heran kalo ada yang bilang lo berdua sodara. Sama-sama galak, sama-sama dingin, suka interogasi orang, dan sama-sama nyebelinnya, tau enggak?!” Omelku menahan malu setelah Afkar dengan tanpa merasa berdosa melontarkan candaan yang sering ia guraukan dengan tim olimpiade kami saat sedang latihan. Aku menyilangkan kedua lenganku di dada dan mengalihkan pandanganku dari kaka-beradik ini. Wajahku mulai terasa panas, pasti rona pipiku mulai tampak. Tapi siapa yang peduli, biarkan saja. Aku sudah malas mengurusinya. 

“Gua enggak ikutan ya, Na! Yaudahlah, Bro, gantiin gua dulu jagain anak gua! Lah, Mbok Halimah mana?” Tanya Syauqi ketika baru menyadari belum melihat kehadiran Mbok Halimah, asisten rumah tangga keluargaku, yang sudah menyetujui permintaannya untuk menemani Afkar menjagaku selama Syauqi menyibukkan diri dengan latihan basketnya di sekolah kami. 

“Tadi gua ketemu dibawah. Mbok Halimah sama Pak Bimo lagi lari-lari daftar ke klinik anak, anaknya yang bayi lagi panas tinggi. Entar abis berobatin anaknya bakal nyusul ke atas, tapi gua bilang enggak usah lah. Biar mereka ngerawat anak mereka dulu, di rumah. Masa anaknya sakit malah ngerawat anak orang, kan? Lo juga pasti sepakat sama gua kan, Rai?” Afkar meminta persetujuanku atas penjelasan panjangnya mengenai ketidakhadiran Mbok Halimah diruangan rawatku saat ini. 

“Iyaa, enggak apa-apa banget, Kar! Makasih banyak malaha. Lagian gue kemarin udah bilang juga ke Syauqi, biar mereka ambil hari liburnya. Ih,lo sih dibilangin bebal banget, Syauqi! Gue bilang juga jangan ngerepotin Mbok Halimah sama Pak Bimo di hari libur mereka, dih!” Aku kembali menyalahkan Syauqi setelah mendengar kabar buruk dari Afkar soal kondisi anak Pak Bimo dan Mbok Halimah yang sedang sakit. 

“Yaudah iya, sori. Thanks ya bro, betewe. Eh bentar, tapi ngomong-ngomong lu bilang ketemu Pak Bimo sama Mbok Halimah? Emangnya lo pernah ketemu mereka ya?” Tanya Syauqi heran saat menyadari keanehan dalam kalimat penjelasan Afkar. Namun kalau dipikir-pikir Syauqi ada benarnya juga, seingatku tidak ada teman sekolahku yang pernah bertemu atau mengenal Pak Bimo dan Mbok Halimah selain Syauqi dan Raniah. 

“Ah, yaudahlah! Lo katanya ada latihan jam sembilan, ini udah jam sembilan lewat! Buruan sono berangkat, entar lo ngamuk-ngamuk gajelas lagi di kamar gue gara-gara diomelin Hasbi.” Afkar menolak memberikan jawabannya atas keheranan Syauqi dan mengalihkan pembahasan dengan mengusir Syauqi agar segera berangkat latihan basket di sekolah kami. 

“Heh, enak aja! Gue kalo marah jelas ya, kan gara-gara Hasbi. Apanya yang enggak jelas, hah?” Bantah Syauqi tidak terima dengan tuduhan Afkar kepadanya. 

“Lo ya bener-bener, baru dateng udah bikin mood gue jelek! Udah ngeprovokasi anak gua buat nyalahin gua, make nambah ngefitnah gua segala! Lo kalo mau gue pergi ya bilang aja! Rese banget lo jadi sodara gua! Yaudah, gua berangkat! Jagain anak gua, ya! Inget, omongan gua kemarin! Jangan macem-macem! Soalnya lo sama Raina sama-sama suka “iya-iya” di depan gua, taunya di belakang gua malah ngebantah gua!” Syauqi beranjak dari kursinya sambil mengomeli Afkar tanpa jeda. 

“Emang cuma di depan anak-anak IIMS ya lo belagak ga bisa ngomong! Bawel bener, dah! Sono buruan berangkat, gua juga mau ngomongin soal club sama Raina.” Timpal Afkar santai tanpa memedulikan ocehan Syauqi. Aku tersenyum geli, melihat pertunjukan kakak-beradik di depanku. Sungguh sejak aku tahu mereka adalah saudara non-biologis, baru kali ini aku benar-benar bisa menikmati interaksi mereka sebagai saudara tanpa merasa canggung satu sama lain. 

“Iye-iye. Yaudah, gua pamitan beneran ini, ya! Assalamualaikum!” Pamit Syauqi  sambil mentapku dan Afkar bergantian lalu berjalan menuju pintu kamar rawatku. 

“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh!” Aku dan Afkar serempak menjawab salam Syauqi dengan lengkap. 

“Rai, gua beneran enggak ngajakin Thariq ya, jangan nanyain Thariq ke gua!” Lagi-lagi Afkar dengan sengaja menggodaku saat Syauqi hendak membuka pintu kamar rawatku, mendengar nama Thariq disebut, Syauqi segera membalikkan badannya dan berjalan cepat ke arahku dan Afkar dengan memasang ekspresi yang penuh keingintahuan tentang kebenaran ucapan Afkar tadi. 

“Afkar, lo ya, bener-bener!” Kesalku sambil memelototkan kedua bola mataki gemas. Kedua pipiku kembali merona karena malu dengan gurauan Afkar yang tiba-tiba. 

“Na, lo seriusan ngegebet Thariq? Gapapa Na, gua dukung! Yok, tentuin tanggal minta abang lu taarufin!” Usul Syauqi asal dengan memasang wajah polosnya yang sok tahu membuatku justru semakin bertambah kesal dengan kelakuan kaka-beradik di depanku ini juga merasa malu. 

“Astaghfirullah, Syauqi! Lo lebih percaya Afkar daripada gua?! Udah deh, berangkat aja lo sono! Bolak-balik mulu!” Aku berseru kesal sambil menahan malu yang mulai mengganggu kenyamananku. 

“Dih, baru juga sekali gua balik! Yaudah, gua pamit. Assalamualaikum!” Bantah Syauqi tidak menerima tuduhanku sambil membalikkan kembali badannya dan berjalan menuju pintu kamar rawatku. 

“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh!” Lagi-lagi aku dan Afkar menjawab dengan serempak. Hanya saja, aku menjawabnya dengan suara yang pelan sambil bersungut-sungut menahan kesal, sedangkan Afkar menjawabnya dengan begitu sumringah dan senyum yang terbuka lebar, seakan-akan ia telah puas mengusiliku. 

“Jangan ditutup pintunya, Bro!” Afkar kembali mengingatkan Syauqi ketika ia hendak berjalan ke arah kursi yang sebelumnya Syauqi duduki dan melihat Syauqi sedang menutup kembali pintu kamar rawatku dengan santai. 

“Iye, lupa. Maaf! Gua cabut ya, Assalamualaikum!” Pamit Syauqi benar-benar yang terakhir kalinya sambil kembali membuka pintu kamar rawatku dengan wajah agak linglung, kemudian ia segera membalikkan badannya dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke tempar parkiran mobil dan bergegas berangkat ke sekolah untuk menghadiri latihan basket di IIMS. Kali ini aku benar-benar tidak boleh mengganggunya dengan masalah kesehatanku, minggu depan babak penyisihan pertama turnamen basket nasional telah dimulai. Syauqi harus fokus dan mempersiapkan usaha terbaiknya agar dapat lolos dari semua babak penyisihan hingga memenangkan turnamen basket nasional tahun ini bersama tim IIMS, seperti impiannya selama ini. 

“Lo suka ya Rai, sama Syauqi?” Tanya Afkar mendadak setelah memperhatikanku yang tak hentinya menatap punggung Syauqi yang semakin menjauh sampai tak terlihat lagi, setelah ia masuk ke dalam lift menuju lokasi parkir mobil. Aku terdiam, tubuhku sempat kaku sesaat. Jujur saja aku terkejut mendengar pertanyaannya yang mendadak dan membuatku kehilangan kata-kata untuk menjawabnya. 

— To be Continued —


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •