The Guardian: Healing Inside You ~ Eps. 9 : Be Honest

Safar Safiir
28 Desember 2023 02:34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kalau boleh berkata jujur, aku tidak akan menyanggah semua pernyataan Syauqi tentang pengorbananku dalam lingkaran persahabatanku dengan Raniah selama bertahun-tahun ini. Sejak dulu aku dan Raniah tidak memiliki ikatan yang erat dalam pertemanan kami. Akan sangat panjang dan memerlukan banyak waktu dan berlembar-lembar kertas, jika menceritakan sejarah pertemanan kami. Intinya, aku hanya merasa senang dan tenang jika Raniah ada di dekatku. Itu karena aku ingin memastikan satu-satunya sahabat dari masa kecilku yang tersisa dalam keadaan yang baik-baik saja dan aku tidak akan ditinggalkan, lagi. Syauqi juga benar, ada banyak kisah antara aku dan Raniah yang belum banyak ia ketahui dan kami ceritakan padanya. Entah bagaimana pendapat Raniah tentang itu, tapi bagiku ini masih belum saatnya Syauqi tahu tentang cerita kami. Inshaallah, suatu saat aku akan menceritakannya padanya.

“Qi, mau gimanapun kan, Raniah adalah orang yang pertama dan satu-satunya yang bantuin dan ngerawat gua waktu serangan pertama penyakit gua ini muncul.” Lagi-lagi, aku berusaha membela Raniah dengan menceritakan satu-satunya pengorbanan terbesar yang sahabat kecilku itu lakukan untukku.

“Nah, itu dia! Itu, masalahnya! Selama ini, dia tahu sesuatu tentang lo dan dia sama sekali enggak mau cerita ke gua! Na, penyakit lo ini penyakit mental, Na! Enggak seremeh sakit demam atau batuk pilek biasa. Mental, Na! Lo sama Raniah kan anak PMR, petugas UKS, seenggaknya lo berdua tau kan, kalo penyakit mental itu bahaya? Bukan cuma di masa sekarang, Na, juga di masa depan kalau penyakit mental lo enggak ditangani sama dokter yang tepat. Bahkan kemarin waktu penyakit lo kumat, dia tetep enggak mau ngasih tau gua tentang kondisi lo. Maksudnya apa?! Kita kan udah sepakat mau kerjasama jagain lo! Dia ngelaksanain amanah dari bunda gua ngelaksanain amanah dari Bang Ahwaz. Tapi, kenapa gini jadinya? Kenapa masih ada yang sengaja ditutupin dari gua? Kalo enggak ada kejadian ini, terus lo berdua masih mau kucing-kucingan sama gua buat nutupin penyakit lo? Hah?!” Syauqi kembali menceramahiku dengan amarahnya yang meluap-luap.

Aku tahu, dia belum meluapkan semua amarah di dalam hatinya, mungkin luapan itu baru setetes dari amarah yang ia pendam di dalam hatinya. Bahkan sampai di situasi ini, kalau Bang Ahwaz yang menceramahiku pasti dia sudah kelimpungan meluapkan amarah sambil menabung rasa bersalahnya karena memarahiku, adik satu-satunya yang begitu rapuh dan lemah ini. Tapi, Syauqi masih berusaha menahan agar tidak menyemburkan semua luapan amarahnya padaku. Lihat saja, urat-urat lehernya yang menonjol dan kepalan tangannya yang begitu kuat dan tegang. Itu ciri khas Syauqi saat menahan amarah ketika sedang berbicara dengan lawan bicaranya. Aku tidak tahu bagaimana Syauqi ketika meluapkan seluruh amarah di benaknya, tapi aku yakin pasti akan sangat seram sampai tidak mampu membuatku tahan menatapnya apalagi menjawabnya, kalau tidak, bagaimana mungkin ia dijuluki sebagai “Algojo” saking seramnya citra Syauqi di mata seluruh murid di IIMS. Baiklah, kali ini aku tidak lagi boleh menuturkan pembelaan untuk Raniah atau dia akan diam membisu sambil menatapku dengan tatapan tajamnya yang mematikan. Sungguh, menurutku itu lebih seram daripada ketika Syauqi meluapkan seluruh amarahnya. Aku pernah melihatnya sekali, saat ia bertengkar dengan Hasbi ketika berlatih basket di lapangan basket IIMS satu tahun lalu.

“Gua yang minta Raniah buat tutup mulut dari lo, Qi. Kita tahu betul, gimana setia dan patuhnya lo sama abang gua yang sangat lo hormati itu. Gua takut, kalo lo tau lo bakal ngadu ke abang gue. Lo kan tau gimana abang gue kalo udah denger kabar buruk soal gue. Bakal panik kelimpungan buru-buru nyamperin gue.”

“Terus, sekarang gimana?” Syauqi menanyaiku dengan kondisinya yang sudah lebih santai sambil menyilakan kedua lengannya di depan dadanya dan bersandar di sandaran kursi yang ia duduki.

“Terus… Eh, apanya yang gimana, Qi?” Tanyaku kebingungan setelah menyadari bahwa sepertinya pemikiranku dan Syauqi sedang tidak berada di jalur yang sama sambil memaerkan muka polosku.

“Ya, sekarang kan gua udah tau soal penyakit lu. Terus, gua ngadu enggak ke abang lu?” Syauqi menjelaskan maksud pertanyaan singkatnya padaku dengan gemas.

“Ooh… Kalau yang gua tau sih, enggak ngadu sih, hehe…” Aku terkekeh pelan dengan memasang wajah merasa bersalah atas perkataanku pada Syauqi barusan.

“Nah tuh tau!” Ucapnya malu-malu dengan menunjukkan ekspresi penuh percaya diri di wajahnya dengan malu-malu sambil pura-pura membenahi posisi duduknya yang terlihat baik-baik saja.

“Tapi kalau yang di belakang gua, hem… kurang tau yah, mungkin Papski Syauqi lebih tahu, heheh” Aku tertawa pelan setelah menyelesaikan jawabanku dengan sedikit bergurau.

“Allahuakbar! Kasar! Kasar! Kasaar!! Ya Allah, lindungi mulut hambamu ini!” Seru Syauqi tertahan sambil berjalan ke arah tembok dan memukulinya pelan dengan tangan kanannya yang terkepal. Aku menutupi mulutku yang sedang menertawai satu-satunya sahabat lelakiku dengan begitu puas agar suara tawaku tidak terdengar.

“Qi, tapi gua serius. Masalah penyakit gua, tolong banget jangan lagi salahin Raniah, bisa?” pintaku mengubah suasana humor kembali menjadi suasana yang serius dalam sekejap. Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk kembali mengungkit topik pembicaraan ini, tapi mau tidak mau aku harus meyakinkan Syauqi secepatnya untuk kembali mempercayai Raniah untuk menemaniku. Bagaimanapun merahasiakan penyakitku ini memang ideku dari awal dan meminta Raniah untuk membantuku.

“Hmm… akhirnya kita balik lagi kita pembahasan ini, ya?” Tanya Syauqi retoris setelah membalikkan badannya mendengar nama Raniah kembali kusebutkan, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan kembali menuju kursi yang tadi ia duduki.

“Tapi Na, soal maafin orang, lo kan juga tau gua bukan orang yang berhati bidadari kayak lo atau abang lo. Jadi, sori Na, kayaknya gue belum bisa jawab lo sekarang. Inshaallah, gua janji gua bakal maafin Raniah. Gimanapun kita bertiga kan udah lama temenan. Dia juga sahabat lo dari kecil. Jahat banget kan gue, kalo sampe misahin lo berdua, haha.” Syauqi tertawa garing sambil memainkan tangannya dan memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Ia merasa tidak enak hati padaku.

“Jadi selama gua coba maafin kesalahan sahabat kecil lo, gua minta tolong lo nurut sma gua, Na. Plis, jangan bahas Raniah dulu sama gua. Jangan juga minta gua izinin Raniah kesini. Jangan lupa, wali lo disini udah diganti pake kontak gua, jadi jangan coba-coba nipu gua mentang-mentang gua enggak disini! Kecuali kalo dia mau cerita ke gua soal kejadian penyakit lo.” Jelas Syauqi memperingatiku dengan seksama mengingat kebiasaanku yang sering melawan keputusannya jika bertentangan dengan kehendak hatiku.

“Masalah penyakit gua, harusnya gua yang paling tau kan, Qi? Kenapa harus nunggu Raniah yang cerita?” Tanyaku berusaha menyederhanakan syarat Syauqi untuk mempersilakan Raniah menemaniku di rumah sakit.

“Oke, yaudah sekarang lo ceritain semua ke gua!” Tantang Syauqi santai sambil menyiapkan dirinya duduk di kursi di dekatnya seakan-akan menikmati tontonan film box office favoritnya.

“Tapi sori banget Qi, bisa kasih gua waktu? Lo juga tau ini masalah mental gua.” Aku memohon belas kasih dari Syauqi mengingat cerita lengkap dari penyakit mentalku saat ini akan membuatku teringat dengan peristiwa tragis yang menjadi penyebab traumaku tiga tahun lalu. Syauqi tidak banyak bicara, sepertinya dia bisa memahami maksud permohonanku.

“Hem.. gini deh. Ngeliat lo kayaknya pengen banget nyelametin sahabat kecil lo. Gimana kalo sekarang lo kasih gue beberapa clue soal penyakit lo atau apa yang bikin penyakit lo kumat. Nanti biarin gua yang nebak penyebab penyakit lo. Tapi kalo tebakan gua bener, lo enggak boleh ngelak! Sekalian buat gua jaga-jaga biar penyakit lo enggak kumat kayak kemaren.” Syauqi menawariku usulannya dengan mempertimbangkan niat baikku yang terbaca dengan jelas olehnya.

“Hem… emang yah, orang kedua yang paling paham gerak-gerik gua setelah Bang Ahwaz, cuma lo! Yaudah, sepakat! Berarti, selama lo enggak ada–“

“Selama gua enggak ada Raniah tetep enggak boleh tau lo disini, apalagi sampe nemuin lo. Udah deh, Na! Dengerin gua napa! Gua tadi udah nelpon Afkar, bentar lagi nyampe. Kata Pak Bim, Mbok Halimah juga udah di jalan. Jadi sambil nunggu mereka nyampe, buruan kasih tau gue clue yang lo janjiin barusan!” Syauqi buru-buru menagih janjiku setelah berhasil membuat detak jantungku seakan berhenti sesaat karena nama saudaranya yang ia sebutkan. Bagaimanapun Syauqi tetaplah sahabatku yang paling keras kepala dengan semua keputusan yang telah ia tekadkan. Aku sedikit memajukan bibirku dan menekuk wajahku, menunjukkan padanya bahwa aku merasa tidak nyaman jika Afkar datang menggantikan Syauqi menemaniku di rumah sakit.

“Na, lo juga kan tau kan, saudara gua enggak mungkin macem-macem. Lo juga bukannya enggak pernah kenal sebelumnya, kan? Lagian, katanya ada yang mau Afkar omongin ke lo soal olimpiade islam yang lo ikutin waktu itu dijadiin klub sama wakepsek akademik dan kesiswaan.” Syauqi mencoba membujukku agar mau menuruti keputusan yang telah ia rencanakan sebelumnya.

Tiba-tiba aku merasakan desiran di hatiku, sama seperti perasaan yang kurasakan dua tahun lalu ketika pertama kali Syauqi mengenalkanku dengan Afkar. Ada sedikit desiran di dadaku ketika Syauqi menyebutkan nama Afkar. Pantas saja, rasanya aku tidak terlalu asing ketika mengingat kembali reaksiku saat bertatapan dengan Rayyan saat itu. Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk menghindarinya. Tinggal menghitung waktu, aku akan menemui saudara angkat Syauqi. Kini aku hanya bisa berdoa dan menenangkan diriku, semoga saja tidak ada kejadian yang mempermalukanku di hadapannya nanti.

— To be Continued —


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •